Sabtu, 08 Mei 2010

Maaf


Maaf untuk sementara buletin Senthir, baru tahap pembenahan tim.

GBu.
Tim Redaksi.

Selasa, 10 November 2009

Pengantar Redaksi - SENTHIR November

Pada BKSN lalu umat katolik KAS disegarkan kembali dengan ajaran tentang kematian, kebangkitan badan dan kehidupan kekal, serta tentang surga, api pencucian dan neraka. Kiranya jadi nyambung dengan bulan Nopember yang oleh Gereja Katholik an; dijadikan bulan untuk memule atau doa bagi leluhur,yang secara liturgi dimulai dengan Hari Raya Semua Orang Kudus
( 1 November ), kemudian peringatan arwah kaum beriman ( 2 November ).
Dalam memperingati arwah, umat melaksanakannya dengan doa pribadi, doa bersama di lingkungan, atau slametan kenduri dengan ujub memule, bahkan ada yang mengadakan slametan nyadran.
Setiap orang kristen dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal, caranya dengan mengunjungi makam dan / atau mendoakan arwah orang yang sudah meninggal setiap hari dari tgl 1 s/d 8 Nopember akan memperoleh indulgensi penuh, dan yang menjalankan pada hari-hari lain memperoleh indulgensi sebagian (Penanggalan Liturgi Kanisius Bulan Nopember).
Pada bulan ini juga, gereja merayakan puncak tahun liturgi pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Pada peristiwa ini, Kaum Muda Katolik Paroki Bedono akan melaksanakan Misa Puncak Tahun Kaum Muda. Dalam Tahun Kaum Muda ini, banyak kegiatan yang telah dicoba direncanakan, dilaksanakan, oleh karena itu perlu dievaluasi bersama. Dengan selesainya Tahun Kaum Muda ini bukannya tujuan kegiatan sudah tuntas, tetapi justru awal titik kebangkitan kegiatan kaum muda ke arah yang lebih baik bagi masa-masa mendatang.
Perlu diperhatikan pesan perpisahan Mgr. Suharyo untuk kaum muda sebagai masa penentuan arah masa depan: setiap hari menyediakan waktu untuk mengendapkan pengalaman yang terjadi pada hari bersangkutan, sebagai tabungan pengalaman yang tentunya sangat positif sebagai bahan melangkah ke arah masa depan.
Berkah Dalem,
Redaksi

KEMATIAN DAN LITURGI KEMATIAN DALAM TERANG IMAN KRISTEN

Kematian bakal menimpa setiap orang. Orang pun menanggapi dengan berbagai sikap : ada yang melihatnya sekedar peristiwa biasa, mengganggapnya enteng, ada juga yang melihatnya penuh dengan kekuatan, ada yang terbuka untuk siap sedia menerima kapan pun itu terjadi pada dirinya, ada pula yang merasa perlu untuk menunda-nunda seandainya itu dimungkinkan. Kebanyakan orang mengharapkan bila saat itu terjadi, sudah siap dengan segala harapan yang dibayangkan dan dipikirkan ketika masih hidup.
Hal yang juga sering kita alami, kita mesti memikirkan saudara-saudarinya, anak-isteri dan orang-orang terdekat yang akan ditinggalkan. Sedangkan kalau memikirkan orang lain yang mengalami kematian, banyak orang melihat kemungkinan berdasar perilaku selama hidupnya; ada yang merasa sedih kalau melihat saat-saat akhir hidupnya yang penuh dengan penderitaan entah itu sakit atau tekanan-tekanan mentalnya, belum lagi tanggungan yang ditinggalkan; bahkan ada pula yang merasa diuntungkan, atau merasa bersyukur karena Tuhan menyelesaikan persoalan hidupnya. Dan tak ketinggalan adalah sikap positif, yaitu mau melihat teladan dan sikap hidup yang baik dari orang yang mati itu. Yang terjadi sekitar kematian pun beragam, seperti : ada tangis, ada kerepotan, ada pertemuan antara saudara (semacam reuni keluarga), ada upacara pemakaman dan segala doa yang mengiringi kepergiannya ke alam yang kita semua belum mengenalnya. Intinya, kita yang masih hidup repot dengan segalanya itu. Dan baru setelah selang sekian waktu, roda kehidupan kembali pulih bergulir dengan setiap kali menghadirkan kenangan atas saudara yang meninggal itu dalam peringatan-peringatan arwahnya. Singkatnya, banyak hal yang dapat kita saksikan dalam peristiwa kematian. Kamatian pun tak ubahnya semacam peristiwa rutin dan pertunjukan yang melibatkan banyak orang dengan lakon sang mati (orang yang mati menjadi tokoh) tanpa ending (akhir) yang pasti, sebab setiap orang mesti meraba-raba, bahkan bertanya-tanya dan menengok diri “kapan dan bagaimana aku sendiri kelak akan mengalaminya.”
Atas gambaran yang serba tidak pasti mengenai kematian itu, ada satu tawaran yang pasti menjadi kemungkinan satu-satunya pilihan untuk dapat memahami arti kematian. Tawaran itu adalah pemahaman dan pengertian berdasarkan iman. Hanya dengan iman kita dapat mengerti dan memahami kematian yang serba gelap. Karena iman itu sengdiri juga gelap dan kita pun milikinya juga hanya karena bekat rahmat Allah yang membuka hati kita untuk percaya. Karena iman kita iman Kristen, maka dalam konteks iman Kristen itu pula saya tawarkan pemahaman itu.
Bagi seorang Kristen kematian bukanlah semata-mata akhir hidup. Pada saat kematian, kita mengambil bagian dalam misteri Paska Kristus. Ketika dibabtis kita sudah digabungkan dengna Kristus yang telah wafat dan bangkit. Maka pada saat kematian bersama dengan Kristus kita beralih dari dunia fana ini kepada kehidupan kekal. Sebab “kalau kita bergabung dengan Kristus dan turut mati bersama Dia, maka kita akan bergabung dengan Dia pula dalam kebangkitan.” (Rom 6:5) Kita menghadap Bapa dan sesudah disucikan dari dosa, kita diterima dalam keluarga Allah yang berbahagia, sambil menantikan penuh harapan kedatangan Kristus yang mulia dari kebangkitan semua orang pada akhir jaman.
Di sisi lain, kita pun biasa melakukan upacara sekitar kematian, atau dalam istilah Gereja sering disebut Liturgi Kematian. Mengapa itu dibuat Gereja, kiranya dapat saya berikan beberapa pokok gagasannya. Gereja merayakan liturgi untuk orang mati, supaya hubungan antara kematian orang beriman dan misteri Paska Kristus dihadirkan di tengah-tengah umat : “akan mengubah tubuh kita yang hina menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.” (Fil 3:21)
Gereja juga menyelenggarakan liturgi lain di sekitar kematian orang beriman dan juga memanjatkan doa bagi putera-puterinya yang sudah berpulang (3,7,40,100 hari; 1,2,3 tahun, dst.). Dengan demikian kita memuliakan Allah yang menguasai kehidupan dan kematian manusia. Kita memohonkan kebahagiaan abadi bagi saudara kita yang sudah meninggal, kita ikut serta dalam duka nestapa keluarga yag bekabung dan memberikan penghiburan kepada mereka, kita menyadarkan umat (kita semua) akan persekutuan para kudus dan memberi kesaksian tentang iman kita yang penuh harapan. Karena itu hendaklah umat Kristen berusaha, agar dalam perayaan pemakaman rasa sedih dan putus asa diatasi dengan suasana penuh harapan dan ketabahan, sebab kita tidak boleh “bersedih hari seperti mereka yang tidak mempunyai pengharapan.” (1 Tes 4:13). Maka dari itu pewartaan kabar gembira memegang peranan sangat penting dalam liturgi pemakaman. Gereja sendiri dalam memandang orang yang mati amat menaruh hormat, itu dapat kita saksikan misalnya dalam perlakuan kita terhadapnya seperti seolah berbaring tidur dengan pakaian yang pantas serasa mau bertemu dengan orang lain atau mau mengadakan perjalanan, dan seterusnya.
Gereja dalam liturgi untuk orang mati amat memberi penghormatan kepada jenazah anggotanya yang sudah meninggal sedemikian tinggi, karena memahami bahwa orang beriman “adalah Bait Roh Kudus” (1 Kor 6:19). Maksud penghormatan jenazah bukan semata-mata untuk memulihkan keserasian alam, bukan untuk memuja sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa, bukan untuk menghalau roh-roh orang yang masih hidup, melainkan kita menghormati jenazah untuk melepas pergi seorang saudara yang mendahului kita, untuk mengungkapkan persekutuan kita dengan kaum beriman yang sudah meninggal, dan terutama untuk menyatakan kepercayaan dan harapan kita kan kebangkitan badan pada hari kiamat “sebab bagi umat beriman hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan” (Prefasi Arwah I).
Liturgi di sekitar kematian dibuat Gereja antara lain untuk menghibur keluarga yang berkabung dan meneguhkan iman umat setempat. Bahkan hal itu merupakan kesempatan yang baik untuk mewartakan iman akan Kristus dan harapan akan kebangkitan kepada hadirin yang bukan Kristen. Karenanya upacara orang mati besar manfaatnya untuk orang yang masih hidup juga, karena bermanfaat sebagai sarana pastoral dalam pembinaan umat dan pewartaan Injil.
Akhir kata, dari kenyataan bahwa kematian yang serba gelap dan hanya dapat kita raba dengan iman toh juga menjadi bagian dari ungkapan hidup beriman kita. Oleh karena itu, harapan yang mestinya kita miliki dalam setiap mengalami kematian saudara-saudari kita, terutama yang seiman, iman kita tambah. Gereja sendiri memberi tempat dalam bulan November, tepatnya tanggal 1 dan 2 November (peringatan semua orang kudus dan jiwa-jiwa orang beriman yang masih membutuhkan doa-doa kita) antara lain supaya kita bisa belajar beriman dari peristiwa kematian. Semoga iman kita kian hari kian hidup, juga dengan peristiwa kematian saudara-saudari kita seiman, hingga kematian mereka pun seperti kematian Kristus sendiri, bahwa kematiannya memberi hidup, kematiannya tidak sia-sia untuk sesamanya yang masih di dunia.

St. Koko Pudjiwahyulistyono, Pr.

SURAT GEMBALA MGR. SUHARYO DALAM RANGKA KEPINDAHAN KE KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Para Ibu/Bapak,
Para Suster/Bruder/Rama
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Sekitar dua belas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 1997, saya menulis surat bagi Umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang, dalam rangka penyiapan diri, menyongsong Tahun Yubileum Agung tahun 2000. Dalam rangka Tahun Yubileum itu, almarhum Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk bergembira dan bersyukur, merasakan kebahagiaan hidup sebagai orang beriman yang dianugerahi keselamatan. Dengan merayakan Tahun Yubileum Agung itu kita juga mengungkapkan harapan kita akan datangnya tata kehidupan baru yang semakin bersaudara, adil, damai dan sejahtera, “langit baru - bumi baru”. Harapan inilah yang selama ini bersama-sama kita perjuangkan perwujudannya dalam berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara.
2. Dalam rangka itu pulalah Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dirumuskan, berbagai pedoman diberlakukan serta berbagai wacana – misalnya Gereja sebagai peristiwa, Gereja yang signifikan secara internal relevan secara eksternal, penegasan bersama, pelayanan yang murah hati dan berbagai wacana lain – dilontarkan. Semuanya diharapkan mengalirkan dinamika kehidupan umat beriman yang mengarah ke terbangunnya komunitas alternatif atau komunitas kontras: yaitu komunitas umat beriman yang hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan sekedar mengikuti arus jaman yang tidak selalu membawa kita semakin dekat dengan Allah, sesama dan alam semesta.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
3. Agar harapan itu pelan-pelan dapat menjadi kenyataan, kita diundang untuk selalu membarui diri sebagai murid-murid Yesus. Kisah pengemis buta Bartimeus yang diwartakan pada hari ini dapat membantu kita dalam usaha mengembangkan hidup kita sebagai murid-murid Kristus. Perjumpaan Bartimeus dengan Yesus membuat dirinya yang tadinya buta (Mrk. 10:46), menjadi melihat (ay. 52). Ia yang tadinya hanya “duduk” (ay. 46), lalu berdiri (ay. 50) pergi mrndapatkan Yesus. Ia yang semula hanya “ di pinggir jalan “ (ay. 46), lalu “mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (ay. 52). Ia menanggalkan jubahnya (ay. 49), artinya “menanggalkan manusia lama … dan mengenakan manusia baru” (Ef 4:22; bdk Kol 3:9). Sikap dan kata-kata Yesus juga mengubah sikap para murid. Semula mereka menegur pengemis buta itu (Mrk. 10:48). Sikapnya tidak bersahabat, kata-katanya tajam. Setelah Yesus menyuruh mereka untuk memanggil si pengemis itu, sikap mereka berubah menjadi bersahabat dan kata-kata mereka meneguhkan. Mereka berkata, “Kuatkan hatimu … Ia memanggil engkau” (ay. 49). Tampak jelas bahwa perjumpaan-perjumpaan yang diceritakan dalam kisah ini merupakan saat-saat yang membaharui dan meneguhkan kehidupan.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
4. Selama dua belas tahun melayani umat di Keuskupan Agung Semarang ini, saya banyak mengalami perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Saya merasa diteguhkan dan berkembang dalam imamat serta dalam pelayanan dalam perjumpaan-perjumpaan seperti itu. Maka pada akhir masa pelayanan saya sebagai Uskup di Keuskupan Agung Semarang ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih. Terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak dalam kehidupan Gereja. Keterlibatan Ibu/Bapak/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sungguh membuat Gereja kita hidup. Saya berdoa, semoga keluarga-keluarga kita dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera. Terima kasih kepada para Suster dan Bruder atas pilihan hidup, kehadiran dan pelayanan yang para Suster dan Bruder berikan. Kehadiran dan pelayanan para Suster dan Bruder amat menentukan wajah Gereja di Keuskupan Agung Semarang ini. Saya berdoa semoga komunitas-komunitas para Suster dan Bruder menjadi komunitas yang semakin memancarkan kasih Tuhan sendiri. Terima kasih kepada para imam, baik yang berkarya maupun yang tinggal di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Kerja keras dan kerelaan untuk bekerjasama diantara para imam menjadikan pelayanan kita semakin murah hati dan cerdas. Saya berdoa agar para imam mengalami kegembiraan batin yang terpancar dalam hidup yang damai serta pelayanan yang semakin total dan tulus.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
5. Pada tanggal 25 Juli 2009 yang lalu saya ditunjuk oleh Bapa Suci Benediktus XVI untuk menjadi Uskup Agung Koajutor di Keuskupan Agung Jakarta. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencoba mengerti dan memaknai kehendak Tuhan dalam penunjukan ini. Saya menerima perutusan ini dengan lapang hati ketika saya sampai pada keyakinan bahwa yang mengutus saya adalah Umat Keuskupan Agung Semarang. Pimpinan Gereja memanggil saya, Keuskupan Agung Semarang mengutus saya dan saya menerimanya karena saya yakin bahwa hidup adalah anugerah yang selalu harus dibagikan. Terima kasih atas sekian banyak doa yang dipanjatkan untuk saya dalam rangka penerimaan tugas baru ini. Kalau pernah ada yang baik yang saya lakukan dalam pelayanan saya selama ini, semuanya itu adalah buah dari doa-doa seluruh umat. Bekal doa ini pulalah yang akan saya bawa dalam menjalankan tugas pelayanan saya selanjutnya. Saya akan berangkat hari Selasa 27 Oktober 2009 dan akan diterima di Keuskupan Agung Jakarta pada hari Rabu 28 Oktober 2009. Marilah kita saling mendoakan agar kita dapat menjalankan perutusan kita masing-masing yang berbeda-beda, demi kemuliaan
Tuhan dan kebaikan sesama.

Doa rosario bersama umat
Hari pertama bulan sepuluh,
Hati gembira penuh semangat
Bunda Maria tempat berteduh

Di hutan hidup kawanan lebah
Di sawah tumbuh rumpun padi
Matahari terus berubah
Kasih Tuhan kekal abadi.

Berkah Dalem,
Semarang, 13 Oktober 2009

Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang

MANTRA

Hong wilaheng semprong bolong randha ayu
Sundel bolong melua uwong, randha ayu melua aku
Salah satu mantra asal bunyi dan guyon, yang nada dan isinya agak dimirip-miripkan paranormal kala merapal mantra. Entah untuk maksud dan tujuan apa, setiap paranormal atau dukun berkarya, selalu ada ucapan mantra atau ucapan sejenis lainnya; namun yang pasti ada hubungannya dengan misteri. Secara riil di kehidupan ini mantra dan paranormal sudah umum ada di masyarakat. Dunia mistik tidak bisa lepas di masyarakat baik yang masih berbudaya lokal kuat, maupun yang sudah berkehidupan modern. Di masyarakat Jawa, dunia mistis ini hidup bahkan mendarah daging (ya mungkin pengaruh suasana kraton), tentunya bagi masyarakat katolik-pun tidak bisa menutup mata, bahwa hal ini masih ada. Lalu salahkah hal ini bila berkembang?
Alam mistik mungkin terbentuk karena manusia sendiri ada di kehidupan tiga dimensi, sedangkan kehidupan lain sudah hidup pada dimensi empat atau lebih (petrus thukul asal saja membuat definisi sembarangan, othak-athik gathuk-asal nyambunglah / jadi ya boleh dipaido). Kemampuan manusia hanya dibatasi oleh ruang tiga dimensi. Dalam Doa Syahadat, kita juga mengakui bahwa Allah menciptakan makluk di bumi ini baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Oleh karena itu bisa dianggap yang tidak kelihatan tersebut adalah kehidupan di dimensi lain, misal dimensi empat, dimana mereka bisa tahu kita dan kita tidak bisa tahu mereka. Maka kadang ada anggapan Sang Pencipta ada diatas dimensi yang tertinggi, kaya apa itu yang nggak tahulah. Dimensi kecil tidak bisa mengikuti dimensi di atasnya, namun dimensi besar bisa mengetahui dimensi di bawahnya (yak-e). Tetapi karena kemampuan beberapa orang yang melebihi orang normal (maka disebut paranormal – keliru nggak ya, apa mestinya tidak para abnormal) antar manusia dan makluk ciptaan lain bisa saling komunikasi. Maka dugaan kiamat pada ramalan yang tahun 2012, bukan hancurnya kehidupan, melainkan adanya kehidupan baru dengan meningkatnya dimensi kehidupan yang saat ini tiga dimensi (nggak usah dipikir nemen-nemen, wong ini cuma tulisan ringan saja) menjadi kehidupan baru empat dimensi atau lebih. Dalam pemahaman Gereja pengalaman mistik / mistisisasi adalah pengalaman khusus dan mendalam akan kesatuan dengan realitas ilahi dan pemahaman mengenai realitas itu, yang dianugerahkan secara bebas oleh Allah. Dalam Gereja yang punya pengalaman mistik biasanya mereka yang memperhatikan doa dan peka terhadap kehadiran Allah dalam hidup mereka ( misalnya santo-santa: Fransiskus Asisi, Ignatius Loloya).
Sewaktu Petrus Thukul diajari nyopir, oleh yang nglatih diberitahu, bila kita melewati jembatan terutama yang sungainya besar, atau melewati pohon besar, kita mesti bunyikan klakson atau lampu dim, tanda permisi pada yang nunggu jembatan atau pohon besar (lha kok gitu ya, tapi nyatanya karena terbiasa ya ritual permisi ini selalu jalan). Air kebutuhan sehari-hari orang Bedono bagian Wetan diambil dari mata air Jerukwangi (yang merupakan bantuan APP tahun 70-an), ada pesen dari yang kawogan, bila cuci alat-alat dapur tidak boleh langsung lewat aliran langsung (maksudnya yang nyenthur langsung), tetapi harus diwadahi ember dulu baru digunakan, kalau tidak yang tunggu sumber air sana bisa marah, dan dibuat masalah sumber airnya. Kita sering dengar orang yang mau minta rejeki tanpa berkarya (halal), membuat perjanjian yang bermacam-macam dampak dengan yang mau kasih; yang salah satunya setelah mati harus mau tunggu satu tempat atau jadi apa gitulah. Mungkin di alam mereka wujudnya hampir sama dengan kehidupan manusia saat ini, ada yang perintah ada yang diperintah, ada yang atur, ada yang diatur, dan lain sebagainya. Di Kitab Suci yang mau diwartakan penginjil adalah kuasa Yesus: bahwa roh jahat ada, tetapi selalu kalah oleh Tuhan Yesus.
Kalau kita mau menggunakan sarana baru, misal mobil baru, disamping diberkati doa, juga diberi sarana penyelamatan yang mungkin tidak masuk akal, misal ditempel jarum emas di salah satu bagian, bahkan kadang berlian bagi mobil mewah. Mau menolak? Biasanya sih kita njur ikut-ikutan. Waktu Petrus Thukul masih seneng sepak bola, sering diberi sarana (biasanya lawe dipakai waktu pertandingan, atau makan telur yang telah dirapal mbah dukun) agar bisa bermain maksimal, syukur menang. (mau nggak ikut ya sungkan, wong teman lainya ya melakukannya). Bahkan dalam satu hari yang dianggap naas, masuk lapangan bolanya harus mundur, wah aneh-aneh saja. Ajimat atau jimat (barang siji sing paling dirumat) adalah sarana yang umum dibakukan oleh orang-orang dalam melakukan sesuatu yang dianggap sebagai penambah keyakinan menyelesaikan atau menangani suatu hal. Misal untuk mengobati orang sakit dengan keris pusakanya, menggunakan batu granit (misal) untuk mengusir setan. Ya itulah riil yang ada di masyarakat yang tidak bisa dipungkiri. Tentang usir Setan-pun Yesus melaksanakannya kalau kita baca di Kitab Suci.
Dari beberapa hal di atas, kita mengetahui ternyata ada komunikasi (yang mungkin juga tidak langsung) antar manusia normal dengan makluk ciptaan lain. Sebagai contoh kita mengadakan merti dusun, untuk menyambung keselarasan masyarakat desa dengan para penunggu atau leluhur desa, kita adakan nyadran untuk memule bersama dengan para leluhur, bila malam jumat kita siapkan minum dan makan kesukaan keluarga kita yang sudah meninggal. Sebenarnya bisa saja kita minta diberitahu bagaimana sih kehidupan di alam sana, misal pada seseorang yang kesurupan (kemasukan roh lain yang sudah meninggal) baik dalam permainan kuda kepang, atau memang kesurupan yang saat ini banyak terjadi pada anak sekolah.
Lalu, apakah dengan tidak mengingkari hal-hal yang mistik yang penuh misteri itu, kita masuk dalam kategori mengikuti gugon tuhon? Ada baiknya kita mencoba menempatkannya secara bijak.
Dalam berbagai ritual yang menjadi kebiasaan adat, seyogyanya tetap kita ikuti. Memule atau mendoakan keluarga atau leluhur lain yang sudah meninggal, baik dalam pribadi, atau dalam wujud selamatan dengan para tetangga, atau nyadran bersama satu kelompok dusun. Karena di samping ujub tersebut, jalinan kekerabatan dengan lingkungan semakin erat. Memberi sesajen di tempat kerja, atau nyadran di dusun, tidak ada salahnya tetap kita pelihara, di samping melestarikan budaya, siapa tahu memang ada dampaknya bagi kelangsungan kegiatan kita. Misal kita punya sawah, biasanya diberi sesajen agar ikut dibantu usaha kita (oleh yang jaga?), karena lupa dari biasanya tidak kita siapkan, hasil karya kita dirusak misal gagal panen.
Namun hendaknya proses atau ritual tadi tidak sepenuhnya kita laksanakan tanpa meninggalkan iman. Prosesi dilakukan dengan tanggung jawab sebagai adat dan kebiasaan di masyarakat; tetapi landasan dasar dan utama adalah mengandalkan kuasa dari Roh Kudus. Roh Kudus tetap menjadi pegangan dan pengharapan kita. Roh kudus akan selalu membentengi kita dari roh-roh jahat lain yang berupaya menyusup lewat kegiatan-kegiatan tersebut.
Hendaknya kita juga tekun doa, apalagi saat berbenturan dengan ritual yang sebatas tipis dengan hal-hal misteri kehidupan.
Saya sampaikan mantra yang menjadi andalan Petrus Thukul :

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

☻☺ Petrus Thukul


MEMULE KANG WUS SUMARE

Tanggal 2 November pasamuan suci Katholik netepake minangka dina kanggo mengeti/memule kang wus padha sumare. Umume warganing pasamuan suci padha ngumpul nyembahyangake sanak sedulur kang wus ajal. Ana kang nganakake bojana Ekaristi utawa Upacara Sabda ing makam, ana uga sing sembayang bebarengan ing lingkungan. Kita wis padha mangerti padatan iki adhedhasar Kitab Suci, Kitab II Makabe 12 : 43-46.
Ing wulan November warga lingkungan Gregorius padha ngumpul sembahyangan bebarengan saben malem Minggu, kanggo nyembayangake sanak sedulur kang wus seda, luwih-luwih sadulur saka sing kanggonan sembahyang.
Masyarakat Jawa yen ana wong ajal banjur nganakake sembahyangan kanggo kang ajal nganti kaping 7, yaiku dina kapisan, katelu, kapitu, 40 dina, 100 dina, setaun (manut taun Jawa), lan nyewu dinane. Padatan iki sing umum ditindakake, nanging ana uga sing nganakake slametan nalika pengetan rong taun (mendhak pindho), lan sawise tanggal 15 padha nganakake upacara “Nyadran” ana ing makam, kanthi rerangken uba rampe wujud jajanan warna-warna, dhaharan komplit lan uga woh-wohan.
Kapiye mula bukane padatan slametan kaya sing kasebut ing ndhuwur, penulis nate nampa keterangna lan maca jlentrehe bab mau. Mung bae antarane sing dak waca lan keterangan sing dak tampa ora padha. Manut keterangan kang nate dak tampa padatan mau dhasare riwayate/pengalamane Sunan Kalijaga. Manut crita Raden Said (Sunan Kalijaga sadurunge dadi muslim), sawise martobat banjur kadhawuhan tapa mendhem (dikubur) dening gurune Sunan Ampel. Amarga Sunan Ampel akeh kegiyatan dakwah nganti kelalen karo Raden Said kang dikubur. Nalika kubure Raden Said dibongkar, prayata Raden Said isih urip sanadyan ora sadhar kamangka wis 1000 dina ana njeron khubur. Sawise diupakara lan diusadani Raden Said bisa sadhar lan bisa waluya kaya wingi uni. Raden Said banjur nyritakake pengalamane ing njero kubur sajrone 1000 dina. Apa sing dialami Raden Said bedha-bedha kalane dina kapisan, katelu, kapitu, 40 dina, 100 dina, setaun, lan 1000 dinane.
Ya pengalamane Raden Said ana njero kubur 1000 dina iki kang banjur digunakake dadi padatan slametan wong kang ajal. Sunan Kalijaga (Raden Said sawise dadi wali) iki kang nggunakake padatan lan kabudayan kanggo nggriyarake agama Islam. Antarane padatan slametan kanggo wong kang ajal, wayang purwa lan liyane. Dene manut apa sing dak waca, padatan memule/slametan kanggo wong ajal adhedhasar owah-owahaning badan/raga ing njero khubur sajrone 1000 dina. Telung dinane badan wis wiwit mambu, pitung dinane wadhuk (weteng) bedhah marga bosok, lan sapiturute. Sewu dinane wis ilang wis resik kari balung, untu lan rambute. Mulane slametan 1000 dinane sing ngarani “ngentek”.
Ana ing kalanganing warga Kejawen, nalika memule arwah, kajaba kirim donga uga kirim sesaji, minangka rerangkening slametan. Umume uba rampe sesaji wis arang banget digunakake mbok menawa amarga ora salaras karo piwulange agama utawa marga kurang praktis lan ora ekonomis.
Kita warganing Pasamuan Suci, apa maneh kita wong Jawa, bisa melu padatan mau kanggo memule. Malah kita wis padha mangerti ana buku tuntunan kanggo upacara mau. Yen ana warganing Pasamuan Suci sing kepengin nganggo rerangkening upacara memule arwah, bisa mirsani buku tuntunan kang karipta dening Rama A. Sandiwan Brata, Pr. mung bae perlu dipahami maksud lan tujuane amrih ora nyimpang karo kapitayan Katulik.
Sejatine tumrap warganing Pasamuan Suci memule kang wus sumare, ora kudu manut padatan sing wis ana. Dina kang diparingake Gusti marang kita, kabeh becik, kabeh bisa digunakake kanggo memule kang wis sumare. Malah yen kita sembayang bengi manut tuntunan buku sing ana (Kidung Adi) ing perangan pungkasan kita padha sembayangan kanggo para sukma ing laku pangresikan.
Penulis duwe gagasan yen warga Katulik nganakake slametan kaya padatan Jawa, kajaba kenduren ngundang tangga teparo, uga nganakake sembahyangan kusus warga Katulik. Bab iki kanggo nggampangake sing mbawa sembahyang.
Apa kang penulis aturake iki ora asipat “ilmiah”, awit tanpa dhasar buku literatur, mung asipat pengertene penulis bae.
Mula yen ana para maos kang luwih prana ing bab memule kang wus sumare karsaa paring panyaruwe lan keterangan kang bener amrih para maos bisa kagungan pangertosan kang bener ing bab memule kang wus sumare. Penulis ngaturake agenging panuwun.

P. Winarso Hs.